Hot Todays

Senin, 19 Agustus 2013

Ulang Tahun WSS Kawi ke 9

Makan Besar ne di ulang tahun'a Waroeng Steak 'n Shake Kawi Malang
Jum'at 16 Agustus 2013 genap sudah Waroeng Steak 'n Shake Kawi Malang berUsia 9 Tahun..
Lama juga eo,,??? Hehehee,,,acara'a makan-makan ne setelah seharian ngelayanin Customer eank ruame banget mpe seAbregh...
setelah acara di buka dengan Do'a bersama eank di pimpin oleh Saudara Shoib,,(Tumben ne Anak lancar amet ngomonk kaek MC) acara makan-makan pun di mulai,,,
Penutup'a makan Bakso buatan Spv 'Cak Alie' mpe BULET ne perut.

Jumat, 14 Desember 2012

Jokowi: Hari Ini Bawa Mobil Pribadi, Besok Nebeng

Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo segera menerapkan berbagai kebijakan untuk mengatasi persoalan kemacetan di Ibu Kota. Jokowi berencana meremajakan Metromini, penambahan armada Trasjakarta, serta membatasi jumlah kendaraan yang melintas di jalan raya.


Nah, untuk masalah pembatasan jumlah kendaraan yang melintas di jalanan Ibu Kota, Jokowi punya tips tersendiri. Dia meminta warganya untuk bersikap fleksibel dalam menghadapi rencana pemerintah itu.
"Warga harus fleksibel, misalnya hari ini bawa kendaraan sendiri, besok bisa ikut tetangga," kata Jokowi di Balai Kota, Rabu 12 Desember 2012.

Jokowi memahami rencananya akan mendapatkan dukungan dan penentangan warga. Namun demikian, ia berkukuh sejumlah langkah untuk mengatasi kemacetan harus berjalan berbarangan satu sama lain.

Menurut dia, persoalan kemacetan tidak bisa hanya diatasi dengan MRT atau penambahan armada Busway serta penambahan infrastruktur. "Harus radikal, harus berbarangan biar cepat kelar persoalan ini," katanya.

Pemain Asing Yang Gajinya Tak Dibayar

Dua pemain asing Camara Abdoulaye Sekou (pemain Persipro Probolinggo) dan Masahiro Fukasawa (Bontang FC) datang ke kantor PSSI untuk menuntut hak mereka yang tak kunjung terbayarkan.

Kedua pemain tersebut datang langsung ke kantor PSSI karena menilai klub mereka sudah enggan untuk bertanggung jawab pada sisa kontrak mereka yang belum dibayar. Namun, sayang tidak ada respon yang memuaskan.

Seperti yang dilansir JPNN, Direktur alih status PSSI Marco Paulo Gracia yang menerima kedatangan dua pemain tersebut hanya menampung. Dia juga enggan berbicara kepada wartawan terkait kebijakan PSSI ke depannya.
"Saya sudah berkali-kali lapor PSSI, Tapi, masih banyak masalah sampai sekarang belum selesai. Mereka (PSSI) janji mau membantu. Tapi,
sampai sekarang belum selesai," kata Camara yang masih belum menerima hak sekitar Rp400 juta.

"Kami berharap segera ada kejelasan. Nasib sepak bola Indonesia juga sekarang sedang berbahaya. Kami ingin ada jaminan hak kami."

Begitu juga dengan Masahiro yang mengaku belum dibayar lebih dari 50 persen dari total kontraknya. Bahkan ia mengaku terpaksa mengikuti pertandingan tarkam untuk mendapatkan penghasilan tambahan.

"Saya baru terima enam bulan. Kontrak saya 13 bulan. Bagaimana hak kami," keluh pemain asal Jepang tersebut.

"Saya dapat dua juta waktu main piala wali kota Bontang. Itu kurang, tapi saya tak punya uang lagi. saya terima main disitu. Kami ingin PSSI bergerak."

Kamis, 13 Desember 2012

Tiga Kota Teladan Yang Patut di Contoh

Tiga kota dipilih menjadi kota teladan bagi kota-kota lain di Indonesia oleh badan PBB, United Nations Human Settlements Programme. Tiga kota pilihan UN Habitat itu adalah Banjarmasin di Kalimantan Selatan, Pekalongan dan Solo di Jawa Tengah.

"Tiga kota ini berhasil membuktikan bahwa mereka mampu melakukan perubahan dan membuat kotanya menjadi lebih baik," kata
Bruno Dercon, Human Settlements Officer di UN Habitat Asia Pasifik kepada Yahoo! di Fukuoka, Jepang, 29 November 2012. Banjarmasin, Pekalongan dan Solo dianggap sebagai kota dengan tata kelola yang baik, kepemimpinan yang kuat dan kebijakan yang pro terhadap warga miskin.

Program ini diawali dengan ide untuk mendengarkan cerita dari kota-kota yang sukses. "Jika ada kota yang sukses, maka seharusnya kota-kota lain juga bisa mencontoh apa yang sudah dilakukan," kata Bruno. Ketiga kota ini dianggap bisa menjadi teladan bagi 500 kota lain di Indonesia.

Kepemimpinan menjadi faktor penting dalam perkembangan ketiga kota, terutama di Pekalongan dan Solo. Penilaian dilakukan antara tahun 2011 dan 2012, saat itu Pekalongan dipimpin Walikota M Basyir Ahmad, Banjarmasin oleh Muhidin dan Solo dipimpin Joko Widodo.

Pemilihan tiga kota ini adalah bagian program Strategi Pembangunan Kota yang awalnya bertujuan untuk menghubungkan pemerintah daerah dan pusat untuk merealisasikan pembangunan di kota. Selanjutnya, UN Habitat berniat menggelar pelatihan untuk para pemimpin kota-kota lain di Indonesia.

Caranya, mengirim para walikota untuk belajar di ketiga kota tersebut. "Agar mereka bisa melihat sendiri dan belajar dari sumbernya langsung," kata Bruno.

Berikut ini ulasan singkat mengenai ketiga kota tersebut:

Banjarmasin
Strategi kota Banjarmasin adalah menjadi gerbang ekonomi Kalimantan, sebuah kota sungai tradisional yang nyaman. "Pegawai pemerintah kota Banjarmasin penuh dengan orang-orang muda bersemangat yang mengerti semua tentang kotanya," kata Bruno.

Salah satu hal yang patut dicontoh dari Banjarmasin adalah layanan air bersih untuk hampir seluruh kota. 98 persen rumah tangga di Banjarmasih sudah dilayani PDAM, persentase yang tertinggi di Indonesia.
Sebagai kota di Kalimantan, Banjarmasin menyadari bahwa sungai adalah identitas kota. Budaya sungai ini akan diperkuat untuk menjadikannya sebagai aset kota dan menyatukan sungai dalam strategi pembangunan. Apalagi, ikon terkenal Banjarmasin adalah pasar terapung yang mengundang wisatawan dari dalam dan luar negeri.

Tantangan bagi Banjarmasin adalah mengatasi pertumbuhan penduduk kota yang diperkirakan berlipat ganda dalam dua dekade. Kota ini dituntut untuk terus memperbaiki layanan dasar dan kualitas hidup warganya. Dengan penduduk yang terus meningkat, kemacetan mengancam kota ini jika tidak segera menemukan solusi.

Pekalongan
Foto: Tempo
Pekalongan punya tiga strategi utama, yakni pengembangan minapolitan, revitalisasi kawasan pusat kota dan pengembangan ekonomi batik. "Awalnya pemerintah kota masih bimbang menetukan mana yang lebih penting untuk dikembangkan, Pekalongan sebagai kota minapolitan di pesisir atau kota batik," kata Bruno.


Masalah mendasar di Pekalongan adalah rendahnya layanan umum dasar, banyaknya penduduk berpendapatan rendah dan pengangguran. Wilayah pemukiman di pesisir utara masih buruk dan rentan terhadap bencana alam.

Untuk mengatasinya, Pemerintah Pekalongan sedang fokus untuk menata daerah utara kota. Caranya, dengan manajemen lingkungan pesisir dan pembangunan. Masyarakat berpendapatan rendah diberi pinjaman lunak dan promosi usaha budidaya dan pengolahan ikan.

Solo
Pemerintah Kota Solo dinilai punya fokus yang jelas untuk mewujudkan visi kotanya, "eco cultural city". Strategi kota ini berkaitan dengan ekologi perkotaan, penjagaan warisan budaya, pengembangan ekonomi lokan dan pembangunan infrastruktur.

Taman-taman direnovasi, antara lain taman Balekambang, Manahan, Kalianyar dan Pucang Sawit. Pemerintah mengusahakan membangun taman lain untuk meningkatkan jumlah penduduk yang tinggal dengan jarak lima menit jalan kaki dari taman.

Bukan berarti Solo bebas masalah. Kualitas ruang publik masih dinilai rendah, apalagi dengan rendahnya kesadaran terhadap masalah lingkungan. Sungai masih tercemar, drainase tak terawat sehingga banjir kerap terjadi.

Menurut UN Habitat dalam laporannya, kebijakan pro-kemiskinan yang dilakukan di Solo meliputi pengurangan kerentanan terhadap banjir, memperbaiki sarana infrastruktur kawasan miskin dan menciptakan lapangan kerja. Yang paling penting adalah melibatkan si miskin dalam dialog.

Kamis, 06 Desember 2012

Diego Mendieta Pemain Asing Yang Rendah Hati

Diego Mendieta
Diego Mendieta merupakan pemain asing rendah hati dan bersedia untuk terus belajar. Dirinya juga tak malu untuk bertanya apa kekurangannya. Kesan itu disampaikan oleh pelatih Eduard Tjong yang pernah menanganinya untuk waktu yang sangat singkat.

Saat itu, Eduard mengarsiteki Persis Selection yang tampil di Batik Cup. Dan, Diego menjadi salah satu ekspatriat yang memperkuat Persis Selection. Dalam pertandingan melawan timnas U-23,
Eduard sempat menarik keluar Diego. Keputusan itu yang membuat penyerang asal Paraguay ini berdiskusi dengan pelatih secara terbuka.

"Dia berucap, sudah lama bermain di Indonesia dan jarang diganti. Karena itu dia bertanya, apa kekurangan dia. Saat itu saya menjawab kalau dia punya kecepatan dan fighting spirit. Namun naluri mencetak gol yang kurang. Ini yang harus ditingkatkan," ujar Eduard.

Yang membuat Eduard kaget ternyata Diego bisa menerima kritik pelatih. Tak hanya itu. Dia bersedia memperbaikinya di pertandingan berikut. Menurutnya Diego tak segan untuk terus belajar.

"Saya hanya 10 hari menanganinya di Batik Cup. Dia pemain asing yang rendah hati. Dia bersedia menerima masukan. Pemain asing lain biasanya tak peduli meski dia ditarik keluar. Dia juga sosok yang mudah bergaul dengan siapa saja," pujinya.

Eduard termasuk salah satu yang berada di rumah sakit menjelang meninggalnya Diego. Dia juga sempat menanyakan kondisi pemainnya setelah dibawa ke ruang ICU.

Blogger

Bola

Coretanku

Driver

Ebook

Facebook

Gadget

Game

Google

Hack

Humor

Info

Internet

Komputer

News

Notepad

Photo

Shortcut

Software

Tips

Tips & Trick

Steak 'n Shake

Twitter